default ads banner CODE: NEWS / LARGE LEADERBOARD / 970x90

Peringatan Hari Trutura, Mengenang Semangat Juang Para Mahasiswa

Peringatan Hari Trutura,  Mengenang Semangat Juang Para Mahasiswa
Suara Pembaca
Sumber : Ilustrasi
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 1 / 468x60

Oleh : Fathimah Adz (Penulis buku,pemerhati social dan remaja)

10 Januari 2019, bertepatan dengan Hari Tritura atau biasa disebut Tiga Tuntutan Rakyat. Hal ini terjadi karena pada tanggal 10 januari, rakyat menuntut untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI),serta terjadi perombakan atas cabinet dwikora, dan menuntut untuk diturunkannya harga pangan. 

Hari Tritura ini diserukan oleh sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam kelompo Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia(KAMI). Selanjutnya aksi ini diikuti kelompok kesatuan aksi dari para pelajar dan mahasiswa se Indonesia. Peringatan ini terjadi karena adanya gelombang demostrasi yang cukup panas  menuntut dibubarkannya PKI, namun pemerintah tidak segera mengambil tindakan yang tegas.  

Isi dari Tritura adalah:
Membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) beserta ormas ormasnya.

Merombak susunan cabinet dwikora menurunkan harga bahan pangan. 

Tuntutan pertama dan kedua sebelumnya sudah pernah diajukan oleh KAP-Gestapu (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September). Sedangkan tuntutan yang ketiga baru diserukan pada saat tersebut. (Tribunbatam.id)

Rentetan demostrasi tersebut terus menyuarakan Tritura, hingga keluarlah surat perintah 11 maret 1966 (Supersemar) oleh presiden Soekarno. Dalam isi surat tersebut adalah presiden meminta kepada MAYOR Jendral Soeharto selaku Panglima Angkatan Darat untuk dengan tegas mengambil tindakan pemulihan untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. (Rilis.id)

Namun,apakah pasca aksi KAMI besar besaran itu PKI dan segala isi Tritura terlaksana?. 

Nyatanya tidak. Seperti yang dilansir oleh tribunnews.com, mantan panglima TNI Gatot Nurmantyo meyakini adanya gerakan gerakan kebangkitan PKI di Indonesia. Hal itu disampaikannya pada hari kamis, 27 September 2018 lalu,saat menjadi narasumber diacara Kompas TV. Begitupula seperti yang disampaikan oleh mantan Badan Intelejen Strategis (BAIS) Soleman Ponto. Ia mengatakan bahwa mungkin PKI tak akan berdiri sebagai organisasi besar seperti ditahun 1960- an. Namun secara ideology tetap ada sampai sekarang walau sudah bangkrut dan dihujat dimana mana. 

“Harus diingat juga bahwa indikasi bangkitnya PKI sekarang ini lebih kepada konteks ideology. Orang orangnya masih sama,kondisi lingkungan sekitarnya juga masih sama. Sehingga masih sangat mungkin untuk bangkit kembali.” Ujarnya. (Sindonews,12/1/2018)

Maka disinilah letak urgensinya kita untuk mengentahui dan mewaspadai hal ini. Karena partai komunis Indonesia (PKI) bekerja berdasarkan program maksimum dan minimum.

Maksimumnya adalah ideology  mereka dapat diterapkan secara global dan universal serta membangun system politik komunis dengan cara revolusi. Sedangkan program minimumnya adalah pengembangan ideology dan penyebar luasannya.

Kedua program ini saling berkaitan antara satu dan lain secara ideology dan gerakan. Maka disini, hendaklah kita saling bekerja sama untuk mewaspadai gerakan berbahaya ini. 

Kebangkitan PKI, Kelalaian kita. 
Gerakan atau ideology PKI dengan berbagai bentuk agenda mereka dapat terus eksis dan berdiri akibat kelalaian kita. Hal ini sangat perlu diwaspadai. Kita harus melakukan pencegahan,deteksi dini, atau bahkan amputasi dini. 
Yang pertama, terjadi benih benih kebangkitan PKI karena kelalaian pemerintah.

Pemerintah sejak reformasi 1998, Negara Indonesia menjadi Negara liberal tanpa adanya sebuah filter. Sehingga di era reformasi menjadi cela dan momentum yang sangat pas untuk PKI menancapkan ideology lagi.

Maka disinilah perlunya pemerintah lebih tegas untuk menerapkan Undang Undang yang telah ditetapkannya dalam kasus pembubaran secara keseluruhan PKI. 
Yang kedua, para orang tua yang mengalami keganasan PKI tidak melakukan pewarisan sejarah pada anak anaknya. Mereka lebih sibuk terhadap urusannya masing masing, hingga terlena dan anak anak mereka tak mengenal sejarah keganasan PKI ini.

Hal ini pun menjadikan para generasi saat ini bersikap instan,atau bodo amat. Akibatnya PKI dengan sangat mudan menjualkan ideology nya terhadap kaula muda,tanpa disertai pemikiran kritis dan keganasan sejarah PKI. 
  

Maka antara kelalaian ketiganya ini, sangat memberi peluang kepada komunis untuk menancapkan benderanya kembali dan melaksanakan program maksimumnya, yaitu revolusi ideology.

Disinilah kita perlu solusi tuntas untuk menyikapi masalah ini. Yaitu hanya dengan kembali menerapkan hukum islam, dan membangkitkan sejarah keganasan PKI yang sempat tenggelam.

Karena hanya islam lah ideology yang paling bersih,damai, santun, dan menentramkan hati setiap manusia. Dengan upaya menerapkan ideology islam ini, maka secara natural ideology komunis akan terhenti dan ditolak oleh masyarakat yang berfikir kritis.

Serta dengan adanya pengaturan sumber daya alam pada islam juga akan menghentikan adanya kenaikan bahan pangan. Yang ada justru penurunan harga, juga penggratiskan semua bahan pangan.

Maka disinilah peran kita, terutama pemerintah yang mempunyai andil besar atas Negara ini. Mari  kita sebar luaskan ideology dan system islam dimuka bumi ini. Bukan hanya dengan perjuangan mahasiswa, tapi dengan perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Dengan ideology islam yang suci,maka ideology ganas PKI akan terkalahkan, dan tak aka nada lagi kenaikan bahan pangan. 

Wallahu a’lam. 
 


Kontributor : Suara Pembaca
Editor : Chandra Kirana
Publisher : Alfina Putri
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar